Satu tekad…
+ Gia itu orangnya…
Sebut saja namanya Gia. Anak yang terkenal cuek, tomboy, ga suka dandan, suka petualangan, suka mencoba hal-hal yang baru dalam hidupnya. Gia adalah anak bungsu dari sebuah keluarga kecil yang bisa dibilang sederhana, tapi Alhamdulillah masi mampu hidup dalam kebahagiaan.
Sejak kecil dia paling suka hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang perempuan. Contohnya, dia lebih suka mereparasi sepeda bututnya bersama ayahnya ketimbang harus berlama-lama didapur bersama ibunya. Dia punya seorang kakak perempuan namanya Ima yang selama ini dia idolakan. Dia banyak belajar dari kak Ima, karena hanya dua bersaudara jadi dia merasa sangat sayang sama kakak perempuannya. Semua hal akan Gia lakukan demi ngebela kak Ima, tapi klo lagi berantem jangan coba-coba mendekat, bisa-bisa kita yang kena damprat si Gia.
Emang sih Gia itu orangnya agak keras, mungkin itu karena didikan orang tuanya, yang bisa dibilang agak keras demi mempertahankan hidup mereka, selain itu orang tua mereka tidak pernah memanjakan mereka sejak kecil.
Sekarang Gia sudah beranjak dewasa, tapi tetep saja sifat satunya itu ga bisa hilang dari ciri khas Gia. Dia tetep tomboy meski dia sudah lebih baik… Alhamdulillah saat lulus sekolah Gia mendapat hidayah, dan dia mulai berkerudung. Gia selalu bilang berkerudung, dia ga mau dibilang berjilbab, karena dia masih merasa belum sepenuhnya berbusana sesuai syariah. Dia baru mampu menutup rambut dan badanya dengan pakaian yang pantas, tapi dia belum bisa seperti para akhwat yang setiap hari memakai baju abaya yang cantik-cantik.
Suatu hari Gia bertemu seorang teman dikampus, sebut saja namanya Fanty. Mereka asik dan larut dalam suatu percakapan. Awalnya hanya tegur sapa, karena sama-sama duduk di ruang tunggu. Tapi lama-lama jadi suatu percakapan yang bisa dibilang lumayan serius. “Mbak, lagi nunggu kelas apa?” tanya Gia yang berusaha mencairkan suasana, meski belum kenal satu dengan yang lainya. “Lagi nunggu pak Ramdhan, mata kuliah lab. Algoritma dan Pemrograman, mbak sendiri lagi nuggu kelas apa?” jawab Mbak Fanty ramah. “Kalo saya barusan selesai bayar uang kuliah, lagi mau pulang. Tapi males mbak, soalnya rumah kos saya jauh. Cape rasanya tiap hari harus pulang jauh. Kira-kira mbak ngerti ada tempat kos yang bagus dan strategis ga?” cerocos Gia. Maklum emang Gia anaknya seperti itu, banyak yang bilang dia lumayan ‘grapyak’ jadi cepat dapat banyak teman. Mereka berbincang lama banget sampe waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. “Wah, mbak aku harus cepat-cepat pulang nich. Soalnya kalo kemaleman nanti ga bisa masuk kos. Eh, mbak… kalo ada kabar-kabar tentang pengajian ajakin Gia yach. Gia pengen banyak belajar tentang agama. Jangan lupa sms yach…” sambil liat jam tangannya dan mulai pasang helm. “Iya, insya Allah nanti aku kabari. Sekalian kalo ada info pengajian ntar aku ajak…” jawab mbak Fanty sambil tersenyum cantik. “Aku pulang dulu ya mbak, assalamu’alaikum…” salam Gia, “Wa’alaikumsalam, hati-hati ya…” jawab mbak Fanty sambil melambaikan tangan.
Malam itu Gia pulang dari kampus sambil membawa sebuah harapan baru, bahwa bentar lagi dia akan mendapatkan tempat baru yang lebih nyaman, dan juga satu hal yang Gia dapat hari itu adalah seorang teman baru yang insya Allah akan membawanya ke lingkungan yang lebih baik. “uahmm… alhadulillah, hari ini aku dapet teman lagi. Tapi capek euy… pokoknya besok aku harus berusaha dapat yang lebih baik dari yang telah aku dapatkan hari ini…” gumam Gia selepas sholat isya dan bersiap-siap untuk tidur.
——————
grapyak = ramah, suka menegur orang lain (istilah dalam bahasa Jawa)