Satu Tekad…
Thursday, May 26th, 2005+ Harapan Gia Hari Ini
Pagi hari Gia sudah bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya. Sekarang ini Gia lagi kerja di sebuah perusahaan design grafis di kota pahlawan. Sudah dua tahun Gia merantau meninggalkan kampung halamannya setelah dia lulus dari SLTA. Sejak dulu memang Gia termasuk anak yang suka berimajinasi dengan gambar, jadi cocok banget kalau dia bekerja di suatu perusahaan yang tiap harinya berkutat seputar gambar.
"Mbok rotinya aku bawa satu ya? Ga keburu neh sarapannya…" teriak Gia sambil menyiapkan bekal. "Iya mbak Gia, bawa aja. Apa kurang rotinya?" jawab mbok Janah dari dalam dapur. "Cukup kok mbok. Gia berangkat dulu ya, takut kena macet kalau kesiangan." "Iya mbak, hati-hati di jalan ya." "Makasih mbok, assalamu’alaikum" pamit Gia setelah memakai sepatu. "Wa’alaikumsalam…" jawab mbok sambil bergegas mengikuti Gia dari belakang untuk menutup pintu.
Pagi itu Gia berangkat ke kantor seperti biasa, dengan celana jeans agak longgar, kaos oblong lengan panjang, pake kerudung warna biru tanpa dililit ke leher, sepatu kets yang sudah agak usang dan tak pernah ketinggalan tas punggung dengan bermacam-macam isi. Tiap hari Gia ga pernah lepas dengan laptop fasilitas dari kantornya, dia sudah menganggap bahwa laptop ini adalah separuh nyawanya.
"Pagi semuanya, assalamu’alaikum… kak Awan apa kabar? Tumben hari ini cakep banget…" sapa Gia begitu masuk ke ruangan. Setiap hari Gia selalu menyapa orang-orang yang ada di ruangan dengan suara yang bisa membuyarkan konsentrasi orang yang lagi serius, dan tak ketinggalan dia selalu menyapa kak Awan yang merupakan teman satu ruangan di kantor sekaligus orang yang paling dekat sama dia. "Pagi juga Gia chayank… gimana bobo nya tadi malam?" jawab kak Awan sembari menanyakan kabar Gia. "Alhamdulillah tadi malam Gia bobo pules banget." jawab Gia. Kak Awan adalah sesosok makhluk ciptaan Allah SWT yang paling menawan di ruangan itu. Selain bisa dibilang paling cakep, alim, dia juga pinter, kaya tapi ga sombong, selalu bijak jika menghadapi suatu masalah dan satu prestasi yang paling keren adalah mampu menjinakkan Gia yang notabene paling jail, cuek dan sering bersikap semau gue. Tapi setelah kak Awan pindah ke ruangan itu Gia jadi penurut sama semua yang kak Awan bilang. Kak Awan adalah jasun (Jawa Sunda) maksudnya, meski dia termasuk suku Jawa tapi dia ga bisa bahasa Jawa, jadi Gia sering ngeledekin dia pake bahasa Jawa yang ujung-ujungnya kak Awan cuma bisa ketawa tanpa tau artinya.
Gia melakukan rutinitasnya seperti biasa. Tapi ada satu hal yang berbeda hari ini. Gia tampak lebih fresh dan lebih semangat dari biasanya.